Rabu, 29 Oktober 2025

𝐈𝐛𝐚𝐫𝐛𝐨 𝐏𝐚𝐫𝐤


 -Ibarbo Park objek wisata yang memiliki aviari terbesar di Indonesia dengan luas taman 4,3 hektar dan lebih dari 100 jenis burung. Para wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan sejumlah burung yang ada di Ibarbo Park. Salah satunya Angsa, Burung Kakak Tua, Bebek, dan Burung Unta.

Selain itu terdapat mini zoo yang bisa dinikmati buah hati, kamu bisa memberi makan kelinci, domba, melihat monyet, rusa, dan macan. Setelah mengajak anak-anak mengenal berbagai macam burung dan hewan-hewan lain, selanjutnya ajak bermain di playground Ibarbo Park.

Para wisatawan bisa berwisata edukasi membuat bakpia khas dari Yogyakarta, kemudian hasilnya dapat dijadikan oleh-oleh. Selanjutnya setelah lelah berkeliling dan berwisata edukasi di Ibarbo Park, para pengunjung bisa menikmati makanan pada restoran setelah itu berwisata belanja sebelum pulang di shopping center yang cukup lengkap

Fasilitas wisata di Ibarbo Park terdapat area parkir, restoran, musala, mini zoo, toilet, playground, dan shopping center.

Tiket masuk menuju Ibarbo Park cukup terjangkau, Rp 30.000 per orang, kemudian tiket masuk mini zoo Rp 15.000, dikutip dari Tribun Travel. Sementara untuk tiket bermain bola Rp 30.000, workshop bakpia Rp 30.000, dan wahana kereta Rp 15.000.

Ibarbo Park buka setiap hari mulai pukul 09.00 sampai 18.00 WIB untuk taman wisata, sedangkan untuk restoran dan toko oleh-oleh mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WIB.

Ibarbo Park berlokasi di Jalan Magelang KM. 14, Jetis, Caturharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ibarbo Park berjarak 15,4 kilometer dari pusat Yogyakarta, dapat ditempuh dengan kendaraan selama 32 menit.

Selasa, 07 Oktober 2025

𝐂𝐚𝐧𝐝𝐢 𝐆𝐞𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐒𝐨𝐧𝐠𝐨

 

- Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek candi bercorak Hindu yang terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Nama Gedong Songo berasal dari Bahasa Jawa, yaitu Gedong yang artinya bangunan dan Songo yang berarti sembilan.

Thomas Stamford Raffles adalah penemu candi ini pada sekitar tahun 1804. Saat ini, Candi Gedong Songo menjadi salah satu tujuan wisata populer di Semarang.

Sejarah Candi Gedong Songo Candi Gedong Songo merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun sekitar abad ke-8.

Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya raja adalah yang membangun Candi Gedong Songo pada awal pemerintahannya. Namun, candi peninggalan budaya Hindu ini baru ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada 1804. Mulanya, hanya ditemukan tujuh buah bangunan candi, sehingga dinamakan Candi Gedong Pitu. Kemudian pada sekitar tahun 1908 hingga 1911, arkeolog asal Belanda bernama Van Stein Callenfels menemukan dua bangunan candi tambahan.

Sejak saat itu, namanya berubah menjadi Candi Gedong Songo dan pernah dilakukan pemugaran sebanyak dua kali. Pemugaran pertama dilaksanakan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1928 hingga 1929. Sedangkan pemugaran kedua pada 1972 hingga 1982 oleh Pemerintah Indonesia.



Senin, 06 Oktober 2025

𝐓𝐞𝐥𝐚𝐠𝐚 𝐒𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧


 - Lereng Gunung Lawu memiliki banyak tempat wisata menarik, baik yang berada di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, maupun di Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Salah satu yang menarik adalah Telaga Sarangan di sisi Jawa Timur.

Telaga Sarangan adalah danau alami yang indah di lereng Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur, dengan ketinggian 1.200 mdpl dan udara sejuk. Luasnya sekitar 30 hektar dan memiliki air biru jernih, serta dikelilingi panorama alam yang memikat. Tempat ini populer sebagai tujuan wisata unggulan yang menawarkan pemandangan, kuliner khas, aktivitas air seperti bermain speed boat, dan legenda Kyai Nyai Pasir yang dipercaya sebagai asal mula telaga tersebut. 

Legenda Asal Usul:

Dikutip dari buku Kumpulan Legenda Nusantara (2023) oleh Astri Damayanti, asal-usul Telaga Sarangan bermula dari kisah Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Mereka adalah pasangan yang hidup di sebuah gubuk di lereng Gunung Lawu.

Kyai Pasir adalah seorang petani. Pasangan ini hidup dari hasil ladang mereka. Pada suatu hari, Kyai Pasir menemukan sebutir telur di ladang. Tanpa tahu telur dari binatang apa, Kyai Pasir membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Nyai Pasir diminta memasak telur tersebut. Mereka lalu makan siang bersama dengan lauk telur yang dibelah dua. Telur merupakan lauk yang sangat lezat bagi mereka.

Sang suami lalu kembali ke ladang. Namun dalam perjalanan, dia merasa tubuhnya panas dan kesakitan. Dia berguling-guling di pasir karena kesakitan. Kulit Kyai Pasir pun mulai muncul sisik dan lama kelamaan tubuhnya berubah menjadi naga jantan.

Nyai Pasir ternyata juga merasakan panas dan mengejar suaminya ke ladang. Nyai Pasir juga berubah menjadi naga betina. Mereka masih terus berguling-guling karena kesakitan.

Dari gerakan naga tersebut, tanah di situ semakin tergerus dan membentuk cekungan yang besar. Dari cekungan itu muncul mata air yang menggenanginnya dan lama kelamaan menjadi telaga.

Konon Kyai Pasir dan Nyai Pasir masih menjadi naga yang hidup di dalam telaga tersebut. Telaga ini disebut dengan Telaga Pasir. Namun karena letaknya di Desa Sarangan, telaga ini lebih dikenal dengan nama Telaga Sarangan.

𝐁𝐞𝐝𝐮𝐠𝐮𝐥

-Bedugul adalah kawasan wisata dataran tinggi yang sejuk di Tabanan, Bali, terkenal dengan ikon Pura Ulun Danu Bratan yang terapung di danau...